Pengertian, Jenis, dan Gejala Komponen Biotik dan Abiotik

Pengertian, jenis, dan gejala komponen biotik dan abiotik – Selamat datang di website TeknologiRAF. Pada hari ini mari membahas kembali pelajaran sekolah, yaitu pelajaran IPA.

Pengertian, jenis, dan gejala komponen biotik dan abiotik

Komponen ekosistem terdiri atas komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik adalah komponen yang terdiri atas komponen hidup. Komponen biotik dibedakan menjadi 3 macam, yaitu produsen, konsumen, dan pengurai.

Adapun komponen abiotik terdiri atas komponen yang tidak hidup.

Berikut penjelasan mengenai pengertian, jenis, dan gejala komponen biotik dan abiotik.

Pengertian Komponen Biotik dan Abiotik

1. Komponen biotik

a. Produsen

Produsen adalah sekelompok makhluk hidup yang mampu memproduksi makanan sendiri melalui fotosintesis. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah tumbuhan berklorofil. Melalui tahap fotosintesis, dapat dihasilkan zat organik yang diperlukan oleh organisme lainnya.

b. Konsumen

Organisme yang tidak memiliki kloforil, maupun tidak mampu memproduksi makanan sendiri atau biasa disebut heterotrof memperoleh makanan dengan cara mengonsumsi organisme lain. Organisme yang demikian ini disebut konsumen.

c. Dekomposer (pengurai)

Pengurai atau dekomposer adalah kelompok makhluk hidup yang berperan menguraikan sisa tubuh makhluk hidup yang telah mati. Dengan kata lain, pengurai berperan memecah zat organik menjadi zat anorganik.

Contoh pengurai, antara lain adalah jamur dan bakteri.

2. Komponen abiotik

Komponen abiotik adalah anggota ekosistem yang terdiri atas segala sesuatu yang tak hidup. Komponen tak hidup dapat pula disebut lingkungan. Berikut ini merupakan contoh dari komponen abiotik.

a. Air

Sekitar 71% dari permukaan bumi ditutupi oleh air. Air merupakan komponen yang sangat penting untuk menunjang adanya kehidupan. Di dalam air sering kali terkandung berbagai unsur seperti natrium, fosfat, kalsium, nitrit, dan amonium. Air dapat berubah wujud menjadi padat (es) dan uap.

b. Udara

Udara merupakan lingkungan yang berbentuk gas. Di dalam udara terkandung berbagai zat, di antaranya nitrogen, karbon, hidrogen, helium, dan masih banyak lagi unsur yang lain. Komponen udara yang paling dominan mendukung kehidupan adalah molekul oksigen.

c. Tanah

Tanah merupakan media tumbuhan bagi tumbuhan. Selain itu, tanah juga sebagai habitat berbagai makhluk hidup lainnya.

d. Sinar matahari

Sinar matahari merupakan sumber energi terbesar bagi bumi. Fotosintesis oleh tumbuhan hijau baru dapat terlaksana apabila mendapat pasokan energi dari sinar matahari.

Dengan demikian, tanpa sinar matahari, maka kehidupan di bumi akan musnah.

e. Derajat keasaman (pH)

Derajat keasaman atau pH merupakan angka yang menerangkan tentang tingkat keasaman suatu zat atau lingkungan. Kondisi pH atau derajat keasaman lingkungan perlu diperhatikan untuk menunjang kehidupan tumbuhan dan satwa yang hidup di tanah. Tumbuhan mampu hidup dengan baik pada kisaran pH 5,8 – 72.

f. Suhu

Suhu merupakan derajat energi panas yang berasal dari radiasi sinar, terutama yang bersumber dari matahari. Bentangan bumi yang dekat dengan garis katulistiwa umumnya memiliki kisaran suhu yang lebih tinggi dibandingkan bentangan bumi di daerah kutub.

Setiap makhluk hidup memiliki kisaran suhu optimum lingkungan yang berbeda-beda. Ada makhluk hidup yang mampu bertahan di suhu dingin, ada pula yang hidup dengan baik di kisaran suhu tinggi. Hal ini mendorong makhluk hidup untuk melakukan adaptasi.

Sebagai contoh, beberapa makhluk hidup melakukan hibernasi atau biasa disebut tidur panjang pada saat musim dingin untuk menghemat energinya.

g. Topografi

Topografi adalah tinggi rendahnya bentang permukaan bumi. Keadaan topografi yang berbeda dapat memmengaruhi iklim, suhu, kesuburan tanah, dan persebaran orgasme.

Gejala Alam Abiotik
Apa yang dimaksud dengan gejala alam abiotik? Ternyata yang termasuk gejala alam abiotik adalah keadaan lingkungan di sekitar kita yang ditunjukkan oleh benda benda tak hidup. Perhatikan lah contoh berikut ini!

Kasus kebakaran hutan yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia termasuk gejala alam abiotik. Sementara itu, asap yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut termasuk objek abiotik.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa gejala alam abiotik merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang terkait dengan benda mati. Sementara itu, objek abiotik adalah benda mati yang terlibat dalam gejala abiotik tersebut.

Gejala Alam Biotik

Berkebalikan dengan gejala abiotik, gejala alam abiotik adalah gejala alam yang ditunjukkan oleh komponen hidup atau komponen biotik. Dapat pula dikatakan bahwa gejala alam biotik merupakan keadaan lingkungan di sekitar kita yang ditunjukkan oleh aktivitas makhluk hidup.

Dengan demikian, gejala alam biotik tidak lain adalah ciri-ciri makhluk hidup secara umum. Apa sajakah ciri-ciri atau gejala alam biotik itu?

1. Bernapas

Seperti yang disinggung di atas, bahwa gejala alam biotik merupakan ciri-ciri yang menunjukkan adanya kehidupan. Maka, ciri pertama yang termasuk gejala alam biotik adalah bernapas. Setiap makhluk hidup dipastikan bernapas. Bernapas disebut juga respirasi.

Hakikatnya, bernapas bertujuan untuk memperoleh energi untuk beraktivitas. Zat sisa dari proses bernapas adalah karbon dioksida dan uap air, yang selanjutnya dilepaskan kembali ke lingkungan.

2. Memerlukan makanan

Semua makhluk hidup pasti memerlukan makanan. Makanan merupakan sumber energi. Misalnya, energi untuk mulai bekerja, berlari, dan mencari mangsa. Bahkan untuk tidur pun makhluk hidup tetap memerlukan makanan atau energi untuk melakukannya.

Berdasarkan cara memperoleh makanannya, makhlup hidup dibedakan menjadi 3 macam, yaitu: produsen, konsumen, dan dekomposer atau pengurai. Produsen mampu memperoleh makanan dengan cara membuatnya sendiri melalui tahapan fotosintesis. Adapun konsumen dan pengurai memperoleh makanan dengan cara mengonsumsi produsen atau organisme lainnya.

Oleh sebab itulah, konsumen dan pengurai disebut organisme heterotrof.

3. Bergerak

Semua makhluk hidup dapat melakukan gerakan. Meskipun demikian, terdapat perbedaan cara pergerakan antara hewan dan tumbuhan. Hewan bergerak dengan gerakan aktif, sementara tumbuhan bergerak secara pasif. Yang dimaksud dengan bergerak secara aktif adalah gerakan yang dilakukan dengan cara berpindah tempat.

Adapun yang dimaksud dengan gerakan pasif adalah gerakan yang dilakukan tanpa berpindah tempat. Gerakan yang dilakukan oleh tumbuhan tergantung pada jenis rangsangan yang diterima. Jenis rangsangan dapat berupa sinar matahari, air, zat kimia, gravitasi bumi, suhu, dan sentuhan.

4. Tumbuh dan berkembang

Semakin bertambahnya timbunan energi di dalam tubuh makhluk hidup, menyebabkannya mampu tumbuh dan berkembang. Apa perbedaan keduanya? Tumbuh dapat diartikan pertambahan ukuran yang bersifat ireversible atau tidak dapat kembali lagi. Pertambahan ukuran yang menandai proses tumbuh umumnya berupa data yang mampu diangkakan.

Contohnya bertambah tinggi suatu tanaman atau hewan. Selain itu, dapat pula berupa pertambahan jumlah.

Sedikit berbeda dengan tumbuh, yang dimaksud dengan berkembang adalah proses pendewasaan yang ditandai dengan terbentuknya fungsi tertentu pada suatu organ. Contohnya, setelah akan bertambah panjang, akar membentuk rambut akar untuk memperluas bidang penyerapan. Munculnya rambut akar ini termasuk peristiwa perkembangan.

5. Berkembang biat atau bereproduksi

Berkembang biak atau bereproduksi adalah upaya makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan baru. Tujuan utamanya adalah melestarikan jenisnya agar tidak punah.

Tumbuh berkembang biak dengan cara generatif dan vegetatif. Perkembangbiakan tumbuhan secara generatif terjadi dengan pembuahan sel telur oleh sel sperma, sehingga dihasilkan biji. Sementara perkembangbiakan secara vegetatif merupakan perkembangbiakan dari bagian tubuh tumbuhan. Misalnya dengan cara pembentukan tunas adventif, rizoma, umbi lapis, umbi batang, stek, dan lain lain.

Seperti halnya tumbuhan, hewan juga mampu berkembang biak secara generatif atau seksual dan vegetatif atau aseksual. Perkembangbiakan hewan secara seksual dilakukan dengan cara bertelur, beranak, maupun bertelurberanak. Sementara itu, perkembangbiakan hewan secara aseksual dapat terjadi dengan pembelahan biner dan pembentukan tunas.

6. Peka terhadap rangsang atau iritabilita

Peka terhadap rangsang merupakan cara makhluk hidup untuk mempertahankan diri dari lingkungan. Kemampuan iritabilita yang dimiliki makhluk hidup seringkali menyelamatkannya dari mangsa atau lingkungan yang tidak menguntungkan. Adapun yang dimaksud dengan peka terhadap rangsang adalah kemampuan makhluk hidup untuk bereaksi setiap kali diberi atau mendapatkan rangsangan.

Misalnya, tumbuhan putri malu atau mimosa pudica segera mengatupkan daunnya setelah mendapatkan rangsangan sentuhan. Pada manusia, contoh peka terhadap rangsangan terjadi pada saat seseorang secara tanpa sengaja menyentuh benda panas. Maka, secara refleks dia akan menarik tangannya atau berteriak.

Hal ini merupakan respons tanggapan dan upaya bertahan dari bahaya.

7. Mengeluarkan zat sisa

Makanan yang dikonsumsi makhluk hidup sebagian diubah menjadi energi untuk beraktivitas. Sisanya disimpan di dalam tubuh sebagai energi cadangan. Selain itu, terdapat zat sampah yang dihasilkan dari aktivitasnya. Zat sampah tersebut kemudian harus dibuang dari dalam tubuh, melalui mekanisme ekskresi atau mengeluarkan zat sisa metabolisme. Kemampuan ekskresi ini terutama dilakukan oleh hewan.

Yang termasuk zat ekskresi di antaranya, keringat, urine, urea, karbon dioksida, dan uap air.

Itulah tadi penjelasan lengkap mengenai pengertian, jenis, dan gejala komponen biotik dan abiotik. Jangan lupa, tunggu artikel tentang soal gejala alam biotik dan abiotik yang akan di posting minggu depan.

Tunggu terus artikel pelajaran sekolah IPA di TeknologiRAF. Terima kasih.

Tags:
author

Author: 

Saya adalah Founder dari TeknologiRAF, saya tertarik dibidang tulis menulis terutama menulis di dalam sebuah website.

Tinggalkan saran dan kritik yang sopan di bawah.